Payung Teduh
COLOUR SEEKER
Payung Teduh
By : Muthiah Zahra

Deskripsi

Berawal dari keresahan saya terhadap terik panas yang dihadapi para pengendara bermotor pada siang hari, termasuk saya. Gak lucunya lagi adalah ketika ada pohon yang 50 meter berada sebelum traffic light (rambu lalu lintas) maka pengendara bermotor cenderung akan berteduh dibawah pohon itu. Hal ini menyebabkan ketidakteraturan lalu lintas dan mengganggu para pengendara yang lain.

Selain itu, kota Jogja dinilai sebagai kota yang penuh dengan seni. Namun hal tersebut belum dapat dirasakan hingga ke jalan-jalan ringroad. Sebagian besar karya-karya seni hanya diperuntukkan untuk daerah yang menjadi pusat-pusat kota saja, seperti malioboro. Karena hal itulah, jalan ringroad menjadi terkesan kurang diperhatikan akan suatu kesenian yang menyebabkan suatu visual yang monoton dan gersang.

Membahas mengenai kegersangan, menurut data Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2016 yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, disebutkan bahwa hingga tahun 2015, jumlah kendaraan bermotor yang tercatat di wilayah DIY berjumlah 2,2 juta unit. Bahkan data terbaru untuk tahun 2016, hingga 28 September 2016, ada 84.312 kendaraan bermotor baru di Yogyakarta. Roda dua masih mendominasi. Hal ini tentu membuat kondisi jalan semakin padat dan membuat semakin gersang.

Oleh karena itulah, saya ingin merealisasikan ide agar jalan-jalan yang gersang dapat dibuat semacam kanopi tapi tetap harus dibuat sesuatu yang menarik agar kesan seni pada jogja tetap melekat. Karena itulah, saya menamai project ini dengan nama Payung Teduh.

Kanopi yang dibuat berbentuk payung warna warni. Kenapa harus warna warni? karena saya adalah seorang colour seeker (hehe). Antusiasme saya terhadap sesuatu yang mengandung warna warni adalah sebuah energi tersendiri bagi saya. Namun, intinya dari warna warni adalah selain memberikan kesan ceria pada jalanan, warna warni juga dinilai dapat mengurangi stress para pengguna jalan pada saat mengalami kemacetan dan kegersangan (data ini berasal dari wawancara saya terhadap 10 orang yang mengatakan hal serupa). Dan menurut pandangan saya, dengan pembuatan kanopi berbentuk payung warna warni ini juga dapat meningkatkan daya tarik masyarakat serta tetap mengindahkan nilai seni di Yogyakarta.

Resiko dan Tantangan

Resiko dan tantangan :

1. Biaya yang diperlukan tergolong mahal dan rumit dalam pemasangan dasar pembuatan kanopi "payung teduh", khususnya jika di lakukan di jalan ringroad mengingat kendala dari kanopi sendiri yaitu angin, badai dll.

Namun, pada #projectpassion kali ini, saya akan mengaplikasikan kanopi "payung teduh" ini di tiga titik jalan di Yogyakarta saja. Yaitu, jalan pertigaan kota baru (yang atasnya ada rel kereta api), perempatan tugu, dan pertigaan jalan arah malioboro (belakang hotel grand inna Yogyakarta) atau pertigaan sekitar jalan mataram). Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko dalam pembuatan rencana awal kanopi. Karena dengan pengaplikasian di tiga titik tersebut, kita dapat menilai terlebih dahulu respon masyarakat, sehingga bahan evaluasi lebih dapat dikendalikan. Selain itu, penerapan pada tiga titik itu juga dapat memberikan impact lebih berarti jika dibandingkan dengan jalan ringroad dari segi seni.

Apabila respon baik dan banyak dukungan, saya berharap real impactnya dapat diaplikasikan untuk jalanan ringroad, dimana jalanan ringroad sangat gersang dan sangat monoton :').

2. Perizinan yang perlu dilakukan mengingat pemasangan kanopi dapat dikatakan bersifat "permanen ataupun semipermanen".

3. Penelitian terkait resiko jalan yang dilalui, seperti dilewati oleh kendaraan-kendaraan besar.

Budget

>100 juta

Informasi dalam website ini ditunjukkan untuk perokok berusia 18 tahun atau lebih dan tinggal di wilayah Indonesia.